SURAT KEDUA BELAS

    Risale-i Nur Tercümeleri sitesinden
    09.49, 5 Ocak 2025 tarihinde Ferhat (mesaj | katkılar) tarafından oluşturulmuş 200563 numaralı sürüm ("Berdasarkan contoh di atas, Sang Pencipta Yang Mahaagung telah memberimu tubuh yang indah berhias mata, telinga, hidung, dan berbagai organ dan indra lainnya. Untuk memperlihatkan jejak nama-nama-Nya yang beragam, Dia mengujimu dengan berbagai macam ujian. Kadang Dia membuatmu sakit, lalu membuatmu sehat. Adakalanya membuatmu lapar, lalu membuatmu kenyang, haus dan seterusnya. Begitulah, Dia membolak-balik dirimu dalam berbagai fase dan kondisi agar esen..." içeriğiyle yeni sayfa oluşturdu)
    Diğer diller:

    بِاس۟مِهٖ سُب۟حَانَهُ

    وَ اِن۟ مِن۟ شَى۟ءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَم۟دِهٖ

    Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kalian dan kepada teman-teman kalian.

    Saudara-saudaraku yang mulia!

    Pada malam itu kalian telah mengajukan sebuah pertanyaan yang belum kujawab. Pasalnya, mengkaji persoalan keimanan dalam bentuk debat tidak diperkenankan. Ketika itu, kalian mengajukan topik permasalahan dalam bentuk perdebatan. Sekarang secara singkat aku akan memberikan jawaban terhadap tiga pertanyaan yang menjadi landasan debat kalian. Kalian bisa mendapatkan penjelasan detailnya dalam al-Kalimât yang nama dan judulnya ditulis oleh sau- dara kita yang apoteker itu. Hanya saja, ketika itu aku tidak teringat “Kalimat Kedua Puluh Enam” yang secara khusus berbicara tentang takdir Ilahi dan ikhtiar manusia sehingga tidak kusebutkan. Karena itu, kalian bisa merujuk kepadanya. Namun, jangan membacanya seperti membaca koran. Alasan mengapa saudara kita yang apote- ker itu kusuruh untuk menelaah kembali bagian demi bagian dari al- Kalimât, karena syubhat dan keragu-raguan yang muncul pada per- soalan-persoalan semacam itu bersumber dari lemahnya keyakinan terhadap rukun iman.

    Sementara al-Kalimât menegaskan rukun- rukun iman secara sempurna.

    Pertanyaan Pertama:

    Apa hikmah dikeluarkannya Adam dari surga? Lalu apa hikmah dimasukkannya sebagian anak cucu Adam ke dalam neraka?

    Jawaban:Hikmahnya adalah penugasan. Ia diutus ke dunia untuk melaksanakan tugas. Ia diserahi sebuah tugas penting di mana hasil dari tugas tersebut berupa semua jenis keluhuran manusia, tersingkapnya seluruh potensi manusia, serta substansi manusia yang menjadi cermin komprehensif bagi nama-nama Ilahi.

    Andaikan Nabi Adam tetap tinggal di surga, kedudukannya statis seperti malaikat. Potensi-potensi kemanusiaan tidak berkem- bang. Sementara malaikat yang memiliki kedudukan tetap sangat banyak jumlahnya sehingga manusia tidak dibutuhkan untuk menunaikan bentuk pengabdian tersebut. Di sinilah hikmah Ilahi menuntut adanya negeri tempat taklif yang sesuai dengan potensi manusia yang dapat menempuh berbagai kedudukan yang tak terhingga. Oleh sebab itu, Adam dikeluarkan dari surga lewat sebuah dosa yang kita kenal bersama di mana ia merupakan konsekuensi dari fitrah manusia yang berbeda dengan malaikat.

    Artinya, dikeluarkannya Adam dari surga adalah wujud hikmah dan rahmat Tuhan. Sebaliknya, dimasukkannya kaum kafir ke dalam neraka adalah bentuk kebenaran dan keadilan-Nya.

    Hal itu seperti yang telah disebutkan dalam petunjuk ketiga dari “Kalimat Kesepuluh”. Yaitu bahwa orang kafir meskipun melakukan dosa dalam usia yang singkat, namun dosa tersebut mengandung kejahatan tak terhingga. Pasalnya, kekufuran adalah bentuk penghinaan terhadap seluruh entitas, pendustaan terhadap kesaksian seluruh makhluk terhadap keesaan-Nya, serta pemalsuan terhadap nama-nama Ilahi yang manifestasinya tampak dalam cermin alam. Karena

    itu, Allah Yang Maha Perkasa dan Agung, Penguasa seluruh entitas, melemparkan kaum kafir ke dalam neraka agar mereka kekal di dalamnya guna mengambil hak seluruh makhluk dari mereka. Pelemparan mereka ke dalam neraka adalah bentuk kebenaran dan keadilan. Sebab, kejahatan yang tak terhingga menuntut adanya siksa yang tak terhingga pula.

    Pertanyaan Kedua:

    Mengapa setan diciptakan? Allah menciptakan setan dan keburukan. Apa hikmah darinya? Bukankah penciptaan keburukan merupakan keburukan?

    Jawaban:Hasya lillah, tidak demikian. Penciptaan keburukan bukan merupakan keburukan, namun melakukan keburukan itulah yang merupakan keburukan. Pasalnya, “mencipta” mengarah dan bergantung pada semua hasilnya. Sementara “melakukan” bergantung pada hasil-hasil spesifik karena terkait secara langsung.

    Misalnya, manfaat dari turunnya hujan mencapai ribuan. Semuanya baik dan indah. Ketika ada orang terkena bahaya hujan akibat dari tindakan buruknya, maka dia tidak berhak mengatakan bahwa penciptaan hujan tidak mendatangkan rahmat. Ia tidak berhak mengklaim bahwa penciptaan hujan adalah sebuah keburukan. Akan tetapi, ia menjadi buruk baginya lantaran tindakan buruknya dan perbuatannya sendiri.Demikian pula dengan penciptaan api. Ia mengandung banyak sekali manfaat. Semuanya merupakan kebaikan. Akan tetapi, kalau kemudian ada yang terkena api akibat perbuatan buruknya dan penggunaan yang salah, ia tidak bisa berkata, “Penciptaan api adalah sebuah keburukan.” Pasalnya, api tidak dicipta hanya untuk membakarnya. Akan tetapi, ia sendiri yang memasukkan tangan ke dalam api yang sebenarnya untuk memasak makanannya. Maka, dengan tindakan buruknya, ia menjadikan pelayan yang taat sebagai musuh.

    Kesimpulannya: Keburukan yang sedikit bisa diterima untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Pasalnya, kalau sebuah keburukan yang mendatangkan banyak kebaikan ditinggalkan agar keburukan yang sedikit itu tidak terwujud, dalam kondisi demikian akan muncul banyak keburukan.Contohnya: ketika pasukan dikirim untuk berjihad, pasti akan muncul sejumlah bahaya dan keburukan kecil, baik secara materi maupun fisik. Seperti diketahui, jihad mendatangkan banyak kebai- kan karena Islam selamat dari belenggu kekufuran. Andaikan jihad ditinggalkan karena takut terhadap bahaya dan keburukan kecil yang akan muncul, maka keburukan akan bertambah banyak di mana hal itu menghalangi munculnya banyak kebaikan. Ini jelas merupakan bentuk kezaliman. Contoh lain: memotong jari yang terkena penyakit gangren (amputasi) mengandung kebaikan dan sangat bagus, meskipun secara lahiriah tindakan tersebut merupakan sebuah keburukan. Namun, andaikan jari tersebut tidak dipotong, tanganlah yang nantinya akan dipotong sehingga keburukannya malah lebih besar.

    Demikianlah, menciptakan keburukan, bahaya, bencana, dan setan bukan merupakan keburukan. Pasalnya, sejumlah hal tersebut diciptakan untuk sejumlah hasil yang sangat penting. Malaikat, misalnya, tidak memiliki sejumlah tingkatan untuk naik. Hal itu lantaran setan tidak menggangu mereka. Karena itu, kedudukan mereka tetap dan tidak berubah. Demikian pula dengan hewan. Kedudukannya tetap dan cacat karena tidak dikuasai oleh setan. Adapun di alam manusia jarak antar tingkatan untuk naik dan turun terbentang luas dan sangat panjang. Sebab, mulai dari tingkatan Namrud dan Fir’aun hingga kalangan shiddiqin, wali, dan nabi terdapat sejumlah tingkatan untuk naik dan turun. Karena itu, dengan penciptaan setan, dengan rahasia taklif dan pengutusan para nabi, terbukalah medan ujian, cobaan, perjuangan, dan perlombaan.

    Dengannya, jiwa-jiwa yang rendah laksana arang tampak berbeda dengan jiwa-jiwa yang mulia laksana berlian. Andai tidak ada perjuangan dan perlombaan, tentu semua potensi terpendam dalam diri manusia. Artinya, akan sama antara arang dan berlian. Atau, akan sama antara jiwa mulia milik Abu Bakar ash-Shiddiq d yang berada di tingkatan tertinggi, dengan jiwa Abu Jahal yang berada di tingkatan paling rendah.

    Dengan demikian, penciptaan setan dan keburukan bukan- lah sebuah keburukan. Sebab, ia mengarah kepada sejumlah hasil menyeluruh dan besar. Kalaupun ada keburukan, hal itu diakibatkan oleh penyalahgunaan dan ulah manusia yang merupakan tindakan secara langsung dan spesifik. Ia kembali kepada perbuatan manusia; bukan kepada penciptaan Ilahi.

    Barangkali kalian bertanya:Meskipun para nabi telah diutus, namum masih banyak orang yang jatuh ke dalam lembah kekufuran karena adanya setan. Mereka celaka akibat bisikan setan. Karena yang menjadi ukuran adalah kondisi mayoritas, sementara mayoritas manusia telah terjerat bisikan setan, berarti penciptaan keburukan adalah sebuah keburukan. Bahkan, pengutusan para nabi dapat dikatakan tidak mendatangkan rahmat.

    Jawaban: Kuantitas tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur. Yang disebut mayoritas pada dasarnya mengarah pada kualitas; bukan pada kuantitas.

    Andaikan terdapat seratus benih kurma, misalnya, namun ia tidak ditanam atau tidak disiram, dengan kata lain jika tidak terjadi interaksi kimiawi padanya, atau tidak mengalami proses pertumbuhan, ia akan tetap menjadi seratus benih dan nilainya sama dengan seratus ribu rupiah. Akan tetapi, jika benih-benih tersebut disiram dengan air dan mengalami proses pertumbuhan di mana sebagai akibatnya delapan puluh benih rusak dan hanya dua puluh yang terus tumbuh menjadi pohon kurma, dapatkah engkau berkata bahwa tindakan menyiram benih tadi sebagai sebuah keburukan lantaran mematikan banyak lainnya. Tentu engkau tidak bisa mengatakan hal tersebut. Sebab, kedua puluh benih yang hidup setara dengan dua puluh ribu benih. Orang yang kehilangan delapan puluh benih, namun mendapat dua puluh ribu, sudah pasti beruntung. Jadi, tindakan menyiram tidak bisa dianggap sebagai sebuah keburukan.

    Demikian pula andaikan engkau mendapati seratus telur burung merak, misalnya. Nilainya sama dengan 500 ribu rupiah. Akan tetapi, apabila seratus telur di atas dierami, lalu dua puluh darinya berhasil menetaskan anak, sementara delapan puluh sisanya rusak. Dalam kondisi demikian, dapatkah engkau berkata bahwa kerugian besar telah terjadi, atau tindakan tersebut merupakan keburukan, atau upaya merak mengerami telur adalah sebuah keburukan?! Tentu saja tidak. Namun ia adalah sebuah tindakan baik. Pasalnya, merak dan telurnya telah memperoleh dua puluh merak yang harganya mahal sebagai ganti dari banyak telur rusak yang berharga murah.

    Begitulah, manusia telah mendapatkan keutungan seratus ribu nabi, jutaan wali, dan miliaran orang salih yang menjadi mentari, bulan, dan bintang dunia kemanusiaan lewat pengutusan para nabi, rahasia taklif, dan perang melawan setan, dibanding kerugian yang dialaminya dengan banyaknya jumlah kaum munafik namun berkualitas rendah serta orang-orang kafir yang merupakan jenis he- wan berbahaya.

    Pertanyaan Ketiga:

    Allah menurunkan berbagai musibah dan menimpakan bencana. Bukankah ini kezaliman terhadap orang- orang yang tidak berdosa dan juga kepada hewan?

    Jawaban:Sungguh sangat keliru. Kerajaan ini adalah milikNya. Di dalamnya Dia berhak melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Andaikan seorang perancang mahir menjadikanmu sebagai model bayaran, lalu ia memberimu pakaian sangat bagus yang ia jahit dengan cara terbaik. Setelah itu, ia memendekkan, memanjangkan, dan mengguntingnya. Kemudian, ia menyuruhmu untuk duduk, berdiri, serta memujimu. Semua itu dilakukan untuk memperkenalkan kemahirannya. Apakah engkau akan berkata kepadanya, “Engkau telah merusak keindahan pakaianku yang membuatku bertambah indah. Engkau telah membuatku penat dengan menyuruh duduk dan berdiri.” Tentu saja engkau tidak bisa mengatakan hal tersebut. Bahkan kalau engkau tetap mengutarakannya, itu menunjukkan sikap kedunguan.

    Berdasarkan contoh di atas, Sang Pencipta Yang Mahaagung telah memberimu tubuh yang indah berhias mata, telinga, hidung, dan berbagai organ dan indra lainnya. Untuk memperlihatkan jejak nama-nama-Nya yang beragam, Dia mengujimu dengan berbagai macam ujian. Kadang Dia membuatmu sakit, lalu membuatmu sehat. Adakalanya membuatmu lapar, lalu membuatmu kenyang, haus dan seterusnya. Begitulah, Dia membolak-balik dirimu dalam berbagai fase dan kondisi agar esensi kehidupan semakin jelas dan manifestasi nama-nama-Nya juga terlihat.Barangkali engkau bertanya, “Mengapa Dia mengujiku dengan berbagai musibah tersebut?” Sesungguhnya seratus hikmah yang agung membuatmu terdiam seperti yang dijelaskan dalam contoh sebelumnya.

    Zaten sükûn ve sükûnet, atalet, yeknesaklık, tevakkuf; bir nevi ademdir, zarardır. Hareket ve tebeddül; vücuddur, hayırdır. Hayat, harekâtla kemalâtını bulur; beliyyat vasıtasıyla terakki eder. Hayat cilve-i esma ile muhtelif harekâta mazhar olur, tasaffi eder, kuvvet bulur, inkişaf eder, inbisat eder, kendi mukadderatını yazmasına müteharrik bir kalem olur, vazifesini îfa eder, ücret-i uhreviyeye kesb-i istihkak eder.

    İşte, münakaşanızın içindeki üç sualinizin muhtasar cevapları bu kadardır. İzahları otuz üç adet “Sözler”dedir.

    Aziz kardeşim, sen bu mektubu Eczacıya ve münakaşayı işitenlerden münasip gördüklerine oku. Benim tarafımdan da yeni bir talebem olan Eczacıya selâm et, de ki:

    Mezkûr mesail gibi dakik mesail-i imaniyeyi, mizansız mücadele suretinde cemaat içinde bahsetmek caiz değildir. Mizansız mücadele olduğundan tiryak iken zehir olur. Diyenlere, dinleyenlere zarardır. Belki böyle mesail-i imaniyenin itidal-i demle, insafla, bir müdavele-i efkâr suretinde bahsi caizdir.

    Ve de ki: Eğer senin kalbine bu nevi mesailde şüpheler gelirse ve Sözler’den de cevabını bulmazsan hususi bana yazarsınız.

    Hem Eczacıya de ki: Merhum pederi hakkında gördüğü rüya için hatırıma şöyle bir mana geldi ki: Merhum pederi doktor olmak münasebetiyle, çok salih ve mübarek, belki veli insanlara faydası dokunmuş ve ondan memnun olan ve menfaat gören o mübareklerin ervahları, onun vefatı hengâmında kuşlar suretinde en yakın akrabası olan oğluna görünmüş, onun ruhuna şefaatkârane bir hoşâmedî nevinden bir istikbal ettikleri hatırıma geldi.

    O gece burada beraber bulunan bütün dostlara selâm ve dua ederim.

    اَل۟بَاقٖى هُوَ ال۟بَاقٖى

    Said Nursî